MAJELIS KEDUA “PERINTAH SEGALA RAJA-RAJA”

Gambar 1. Singgasana Sultan (Sumber: Ilustrasi)

BidikAceh.com –  Rayeuk, 28/5/2020. MAJLIS syarat yang kedua Perintah Segala Raja-Raja itu atas sepuluh Perkara.

Pertama, tahta atas kuasanya; Kedua, terdiri amar-nya; Ketiga, ampun tatkala murkanya; Keempat, membesarkan yang kecil; Kelima. mengkecilkan yang besar; Keenam, memuliakan yang hina; Ketujuh, menghinakan yang mulia; Kedelapan, mematikan yang hidup dan menghidupkan yang mati; Kesembilan, adab pada hal duduknya; Kesepuluh, adil masyhur namanya pada segala negeri.

Murad daripada tahta atas kuasanya itu yakni segala raja-raja itu “sekurang-kurang tahtanya empat batang tiang pun istana namanya”, “sekurang-kurang tahtanya empat mazhab kayu didirikan dikatalah namanya”, “sekurang-kurang sekalipun seorang menterinya mau juga ada membicarakan negerinya, dan lagi seorang hulubalang mau juga adakan menolak segala seteru-nya, dan lagi seorang bintara mau juga berdiri memegang senjata di hadapannya. Jikalau besar raja itu besar lagi tahtanya. Inilah tahta atas kuasanya.”

Adapun murad daripada amar-nya itu hendaklah raja itu mendirikan amar Allah dan nahiNya, Melakukan amar ini tiada lain bagi dikeelokannya atas negerinya.

Adapun murad daripada ampun tatkala murkanya itu hendaklah segala raja-raja itu mengampuni dosa segala hambanya karena manusia  terkenderai atas lupa dan lagi lalai, karena segala raja-raja mengikut bagi Tuhan Yang Maha Tinggi mengampuni segala a hambaNya. Jikalau segala raja-raja itu tiada ampunnya, maka rakyanyapun tiada menderita.

Adapun murad membesarkan yang kecil itu maka dilihat \rajanya, jikalau hambanya itu miskin sekalipun jika ada baik lafalnya dan dapat ia membicarakan pekerjaan raja maka seyogia dibesarkan oleh raja itu, karena kebesaran dan kemuliaan insya Allah daripada segala raja-raja.

Adapun murad mengkecilkan yang besar itu hendaklah dilihat raja-raja, jikalau hambanya itu akan daripada khianat lakunya dan lakunya maghrur ia dalam kebesarannya, suatupun tiada hasil pekerjaan raja-raja olehnya dan beberapa mereka keluar daripada negeri itu sebab anianya, maka harus dikecilkan raja olehnya baginya supaya jangan jadi binasa negerinya.

Adapun murad memuliakan yang hina itu hendaklah dilihat raja itu ada penguasanya padanya dan kebaktian baginya dapat menghasilkan barang-barang pekerjaan raja dan baik afalnya, jikalau hina bangsanya sekalipun harus dipermulia raja itu akan dia.

Adapun murad menghinakan yang mulia itu, jikalau ada hambanya itu berbangsa dan kaya maka dibinasakan majlis raja olehnya dan banyak memberi kesakitan olehnya, maka segera menurunkan daripada tempatnya yang mulia itu supaya jangan binasa majlis raja.

Adapun murad mematikan yang hidup, dan jika dilihat raja-raja afal hambanya takabur dan ghurur dalam kesukaannya hendak melakukan tendang raja halnya, beberapa segala isi negeri kesakitan olehnya dan hendak durhaka hiru-hara, maka sementaranya belum datang bencana kepada raja segera dimatikan mereka itu.

Adapun murad menghidupkan yang mati, jika ada hamba-nya itu berdosa maka dibicarakan oleh raja, kalau ada daripadanya berbuat bakti akan raja yang telah lalu atau daripada nenek datuknya ada bakti akan raja, maka seyogianya diampuni dosanya supaya bertambah-tambah ia berbuat kebaikan akan raja. Demikianlah menghidupkan yang mati.

Adapun murad daripada adab duduk pada hal itu, yakni pada tatkala raja duduk semayam itu adalah seperti matahari gilang-gemilang cahayanya yakni warna muka raja itu manis seperti laut madu di hadapan balatenteranya sekalian serta khidmad akan segala ulama dan perdana menteri dan hulubalang supaya bertambah-tambah kebesaran dan kemuliaan, yakni apabila raja itu hormat akan segala ulama jadilah berdiri agama, dan apabila raja hormat akan segala menteri ditakuti oleh segala rakyat akan  menteri itu barang pekerjaan raja oleh menteri -itu. Inilah arti adab pada hal duduk semayam di atas singgasana tahta itu adalah seperti bulan purnama gilang-gemilang cahayanya maka penuhlah bintang memagar sesuatupun tiada dan mengatur ia maka hebatlah rupa alam ini.

Adapun masyhur adilnya nama raja itu yakni hendaklah raja itu menghukumkan bagi segala mereka dengan hukum yang sebenarnya, kedua perkara hendaklah raja itu memeliharakan segala dagang ditambahi pula dengan limpah karunia raja, ketiga perkara hendaklah raja mengubungkan

kasih sayang pada negeri. Itulah arti masyhur adil namanya raja itu, maka sempurnalah kerajaan raja itu,

wallahu a’lam.

Komentar Singkat:

Majelis kedua berisi nasehat bagaimana mendapatkan kebesaran bagi seorang raja/sultan/khalifah/pemimpin di Aceh.  Nasehat 10 amar (perbuatan) adalah tindakan seorang pemimpin dalam mengelola pemerintahannya hingga ia-nya mampu mendapatkan rahmat Allah dan semakin besarlah kemegahannya dan takjublah rakyat serta pemimpin negeri-negeri lain akan  kebesarannya.

Sebagai negeri Islam yang bercita-cita menjalankan Islam kaffah, semoga Aceh kelak dikarunia pemimpin yang kuat seperti Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Alaidin Ri’Ayat Syah Al-Qahar dan Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam yang perbuatan-perbuatan mereka selalui di ridhoi Allah Subhana Wata’ala, InshaAllah. Redaksi []

admin

Next Post

Bersiaplah,, Mulai 1 Juli 2020 Sri Mulyani Kenakan Pajak Digital

Kam Mei 28 , 2020
BidikAceh.com – Jakarta – Mulai 1 Juli 2020, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen akan dikenakan atas pembelian produk dan jasa digital dari pedagang atau penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE), baik dari luar maupun dalam negeri, yang mencapai nilai transaksi atau jumlah traffic dan pengakses tertentu dalam kurun waktu 12 […]

Breaking News

Kategori